Sukardal, 53, tukang becak mati gantung diri, karena
becaknya tgl 2 juli 1986 disita petugas tibum. Seorang dari sekian
ratus ribu yang kehilangan mata pencarian di indonesia. ia mati tapi
tidak membisu. SUKARDAL menggantung diri pada umurnya yang ke-53.
Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986
malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai
dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian
yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan
iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak
ketiga,” kata pejabat lain.
Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama,
siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari
sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia
telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan
berhasil turun dari mobil.
Tapi ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber
hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang
berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak, “Saya mau
bunuh diri …. Saya mau bunuh diri ….”
Dan benar: Sukardal kemudian menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian
yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum.
“Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.
Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di
Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang
yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil.
Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius
yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air
yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari
sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia
bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa,
Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi
emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil
tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu
terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi
mereka, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan
jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak
yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu
yang besar bagi keluarga itu.
Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di
sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung
diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.
Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah
karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan
sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia
justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis
bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang
lahad.
Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di
sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu,
setelah petani-petani miskin mencoba berontak di tahun 1884 dan kalah
dan terkubur:
Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.
Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera . . .
Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.
Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau
betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu
sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak
bilang, karena ini negara hukum….
Sukardal meminta, dengan leher terjirat dan nyawa melesat, dan itu
berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.
Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang
bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang.
Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah.
Sukardal telah lewat setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih
kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi ia, yang tamat
sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang
kecil di Jakarta, toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati,
dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana,
terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.
~Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar