Senin, 07 Oktober 2013

Dari Ambon dan Gedung Hangus





Ambon masih dihuni gedung-gedung hangus. Di kiri-kanan jalan: reruntukan suram. Di kota Maluku ini orang masih bisa bicara dengan rinci tentang kebengisan panjang yang berawal pada tahun 1999 dan berakhir menjelang 2005 itu: rumah mereka yang hancur dibakar, gereja, masjid, dan universitas yang dibumihanguskan, bom yang dirakit dan diledakkan, speed boat yang diserang, preman dan laskar dari luar yang ikut menyulut kebencian, militer dan polisi yang menghasut, pengungsi yang mungkin tak kembali, ratusan saudara dan teman yang mati dibantai. Konflik antara penduduk muslim dan Kristen Maluku itu berakhir dengan sekitar 13 ribu orang tewas; bagaimana orang akan melupakannya?

Yang menakjubkan ialah bahwa pada bulan Juli 2006 itu kota dan penghuninya telah tampak kembali ramah dan dengan kehalusan yang khas, tak jarang riang—seperti laiknya orang Ambon. Kehidupan sedang pulih dan seakan-akan ada salam yang kemarin bungkam: bandara itu kelihatan baru dan lebih bagus ketimbang bandara Surakarta, lebih rapi ketimbang Surabaya. Di lobi Hotel ”Amans”, tempat para tamu bisa berhubungan dengan seluruh dunia melalui koneksi Internet wireless, hari itu orang menyambut gadis-gadis Maluku peserta kontes kecantikan. Dan jalan padat, dan pasar ramai.
Tentu saja saya amat sebentar singgah; saya hanya tamu. Saya tak akan tahu persis jika ada trauma, dendam, dan perpanjangan curiga yang menyelinap di lorong-lorong. Namun, rasanya ada yang meyakinkan bila di sepanjang trotoar yang sesak lagu-lagu Maluku populer mengalun keras dari kedai-kedai CD, perempuan dengan atau tanpa jilbab duduk bercengkerama di warung-warung rujak orang Kristen di sepanjang pantai, dan pada hari kapal Lambelu merapat, pelabuhan hibuk oleh pelbagai manusia. Di kakilima di seberang kantor Firma Abdullah Alie (famili Alie adalah salah satu dari keluarga keturunan Cina muslim yang hidup di Maluku mungkin sejak abad ke-19) ada penjual koran; di kiosnya tampak majalah Playboy terbaru dipajang. Agak jauh dari sana, Pasar Mardika penuh dengan warna: deretan tomat merekah merah, jeruk purut berbutir-butir hijau, sagu di kantong plastik yang kuning, daging ikan asap secokelat kayu manis.
Di perjalanan sepanjang teluk saya dengar seorang sopir berkata: ”Kita orang bodoh, mau dibikin baku bunuh.” Ia tentu saja bicara tentang perang saudara yang mengerikan itu.
Ia agaknya tahu sebagaimana dunia tahu, di sini Tuhan pernah disebut di kedua kubu dengan keyakinan yang berlumuran darah, untuk sebab yang tak jelas, mungkin bagian dari cara orang di lapisan atas menegakkan posisi, mungkin karena sejumlah preman memperebutkan lahan pemerasan. Saya tak pasti bersedihkah sopir itu atau mencemooh. Tapi pada akhirnya terucap kesadaran itu—atau mungkin rasa letih yang tak bisa lagi jadi kemarahan. Kini orang kembali hidup dari tepi jalan bersama: di perdagangan kecil, di percakapan kecil, di perbuatan praktis dan persahabatan yang belum sepenuhnya hancur. Mereka menambal dan menyulam hidup, menyusun rumah dari puing, membalsami luka.
Saya jatuh hati kepada kota ini. Tapi bukan semata-mata karena ia dirias pohon hijau, didampingi teluk, dilengkapi bukit.
…no one exists alone;
Hunger allows no choice
To the citizen or the police;
We must love one another or die.
— W.H. Auden

Ada sesuatu yang akhirnya bersuara dari dalam tragedi itu, ”Kita mesti saling mencintai, atau mati.”
”Cinta” mungkin kata yang terlampau menggelembung. Tapi apa pilihan sebaliknya dari ”mati”?
Sajak Auden itu, September 1, 1939, ditulis di sebuah sudut di 42nd Street di New York, ketika dunia dihantui sebuah perang besar. Kini baiklah kita bayangkan sang penyair tak berada di New York, tapi di Ambon—atau di sebuah sudut Indonesia—ketika Republik terancam ambruk oleh perang-perang saudara lokal seperti yang terjadi di Maluku itu. Ia mungkin akan juga merasa bahwa ”harapan-harapan yang pintar habis”. Ia mungkin akan sadar tentang ”sebuah dasawarsa yang culas dan nista”, ketika gelombang marah dan ketakutan berpusar, ketika ”bau kematian yang tak bisa diucapkan” mengusik malam.  
Tapi, seperti halnya di Ambon, hidup bisa menebus dirinya sendiri: selalu ada sebuah alternatif yang bisa dibangun ketika ”harapan-harapan yang pintar habis”. Di akhir sajaknya Auden bertanya: bolehkah ia, seperti mereka yang lain, yang terbentuk dari ”cinta dan debu”, yang dikepung oleh putus-asa yang sama, menunjukkan ada cahaya yang meneguhkan? Pertanyaan itu memang ragu atau rendah hati. Tapi harapan bukan sesuatu yang mustahil. Sajak itu menyebut cercah sinar yang ironis (”ironic flash of lights”) yang tampak bagai titik-titik dalam gelap, tatkala malam tak menawarkan perlindungan.
Kata ”ironi” penting di situ. Konon kata ini datang dari bahasa Yunani, eirôneia, yang berarti ”sikap berpura-pura tak tahu”. Di dalamnya ada jarak, bahkan langkah berbalik membelakangi sikap ”aku-tahu” yang yakin.
Auden menulis sajak itu pada sebuah masa ketika ”pencakar-pencakar langit yang buta” berdiri tegak dan dengan tubuh jangkung mereka memaklumkan ”kekuatan Manusia Kolektif”.
   …blind skyscrapers use
Their full height to proclaim
The strength of Collective Man,  
Itulah masa ketika pelbagai paham totaliter berkibar-kibar. Itulah masa ketika tiap bahasa memuntahkan dalih yang angkuh dan penuh persaingan. Seperti di zaman ini: ketika ”manusia kolektif” digalakkan oleh menara-menara pengeras suara, ketika agama yang seharusnya menumbuhkan kerendah-hatian justru jadi dalih bagi sikap ”aku-yang-tahu-dan-benar-dan-suci”, ketika iman berangsur-angsur berubah jadi identitas sosial dan ”umat”—sebuah sosok manusia kolektif—jadi demikian penting, lebih penting ketimbang kebenaran.
Ironi menunjukkan, sebenarnya ada yang tak pas dalam posisi seperti itu. Dengan mengambil jarak, kita akan menemukan bahwa tiap identitas sosial sebenarnya tak pernah siap dirumuskan. ”Umat Islam” atau ”umat Kristen” dapat berarti macam-macam, sebab di dalamnya ada perbedaan-perbedaan yang tak hendak diakui. Di dalam tiap pembentukan identitas sosial, juga ketika kita bicara ”umat”, sebenarnya terkandung represi.
Kekerasan sudah berbenih sejak represi itu: pada gilirannya, yang dianggap tak sesuai dengan ”kami” yang kolektif akan dilenyapkan. Di Ambon, 27 April 2001, Radio ”Suara Perjuangan Muslim Maluku” dikutip menyiarkan peringatan ini: ”Jika masih terdapatlah di antara orang muslim yang ingin berbicara tentang rekonsiliasi, bunuhlah dia!” Di wilayah Kudamati, dua kelompok Kristen saling bermusuhan, saling menyerang, dan rumah-rumah dibakar.
Mungkin itu sebabnya tiap identitas sosial mengandung luka, dan sebab itu retak. Bahkan identitas itu dicoba dibentuk justru karena retakan-retakan itu. Pada saat yang sama, ia merumuskan diri atau dirumuskan, menamai diri atau dinamai, oleh sebuah bahasa—yakni bahasa yang tak ia bangun sendirian. Ia memasuki sebuah konvensi. Ia pun bergabung ke dalam sebuah sistem; sebenarnya ia hanya sebuah penanda. Tak ada yang secara utuh dan tetap hadir sebagai sesuatu yang ditandainya (apa sebenarnya yang disebut ”umat”?). Maknanya hanya muncul ketika ia disandingkan dengan identitas sosial lain dan diberi batas oleh identitas lain itu. Ia berbeda, tentu, dari yang-lain, tapi karena berada dalam sebuah sistem pemaknaan, ia tak sepenuhnya tertutup; ia tak secara radikal berbeda dari yang-lain. Bagaimana mungkin ia bisa meniadakan yang-lain?
”Kita mesti saling mencintai, atau mati,” tulis Auden.
Mungkin ”mencintai” bukan kata yang menggelembung. ”Mencintai” berarti terpesona kepada yang-beda, menyentuh apa yang terbatas dalam diri sendiri pada saat bersua dengan yang-lain, dan sadar bahwa bahasa tak bisa menangkap apa yang ada dalam diriku dan yang-lain itu. Dalam kalimat Auden, ”Each language pours its vain, competitive excuse.”
”Mencintai” adalah sebuah laku sederhana.
***
Saya pernah menempuh laut dari Pulau Buru ke Ambon di atas sebuah kapal kecil yang disebut Landing Craft Material pada tahun 1969. Ombak mengguncang hampir selama 11 jam di dek sempit yang pengap bau minyak kayuputih. Pada akhir Juli 2006 saya kembali menempuh laut itu, dengan ”kapal cepat” yang lancar selama sekitar tiga jam.
Rantau hampir tak pernah tak terjangkau. Berada di Maluku kita akan menyadari itu dan menyadari apa arti rantau: tempat yang jauh dari rumah, tapi tak sama sekali asing. Bahasa Melayu menyebut negeri lain sebagai ”seberang”.
Dengan demikian laut mempunyai dua sisi yang bertentangan, tapi juga bertaut: sebuah pemisah dan juga perangkai, sebuah antara dan sebuah lokus tersendiri. Ia penuh suspens, ia memukau.
Dalam salah satu puisinya yang terkenal, Cerita Buat Dien Tamaela, Chairil Anwar menghadirkan satu suara sosok mithologis dari Maluku—kita tak tahu persisnya dari mana—yang menyebut diri, ”Beta Pattirajawane”. Suaranya gemuruh; ia dengan agung memaklumkan, bahwa ketika ia lahir, orang membawakan kepadanya ”dayung dan sampan”. Dan ia pun mengajak:
Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!
Dengan kata lain, laut menandai petualangan yang gairah, kebebasan untuk lupa, kepergian dari rumah. Terkadang laut adalah zona di antara rumah dan rantau, sebuah transito. Terkadang ia rantau itu sendiri. Laut tak pernah kosong: ia sumber hidup dan perangkai perniagaan, perang, pengungsian, dan peradaban.
Dengan itulah terjadi sebuah rumah baru, rumah bukan sebagai tempat asal yang tertutup, melainkan yang tumbuh justru karena pertemuan dengan yang-beda dan tak disangka-sangka. Saya ingat apa yang dikatakan Heidegger (yang berbicara tentang arus Sungai Danube yang disebut dalam sajak Hölderlein, der Ister): ”Pulang…adalah sebuah transit melalui ke-berbeda-an”.
Mungkin itulah Indonesia, mungkin itulah takdirnya: tempat kita pulang, juga serangkaian rantau, sebuah tempat yang dijelang tapi juga rumah yang meriah dan rumit dalam kebhinekaan. 
 
Jakarta, 8 Agustus 2006.
~Majalah Tempo Edisi. 25, 14 – 20 Agustus 2006~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar