Senin, 07 Oktober 2013

Glung



Bola api tampak di langit Pangandaran, suara ”glung” dan ”bleg” terdengar di bawah bumi Yogya.- Orang pun gentar, setengah terkesima: apa arti semua itu?
Barangkali itu isyarat, bisik sebagian mereka, entah dari angkasa luar, entah dari palung lautan. Barangkali itu waham, kata yang lain. Barangkali alam dan rasa takut telah berkait, barangkali alam dan suasana berkabung tumpang-menumpang, dan tak jelas lagi mana yang menyebabkan dan mana pula yang disebabkan.

Apa boleh buat: bencana menghantam kita berturut-turut—dua kali tsunami dalam jarak waktu belum dua tahun, dua kali gempa yang membunuh ratusan manusia, Gunung Merapi yang memuntahkan lumpur panas ber-hari-hari…. Dengan kata lain, kesadaran kita dengan serta-merta digebrak oleh sesuatu yang tak dapat sepenuhnya dijinakkan penjelasan ilmu, tak dapat ditata oleh wacana, tak terjangkau utuh oleh tata simbolik. Bahasa kita jadi gagap, dan bola api itu terasa semakin besar, suara ”glung” dan ”bleg” itu terasa semakin menakutkan, dan kita semakin berkabung.
Amir Hamzah pernah menggambarkan situa-si manusia dan alam yang dilimbur bencana dalam sebuah puisi yang dengan plastis memantulkan bunyi-bunyi yang mengerikan bahkan sejak dari konsonan dan aliterasi kata-kata yang dibariskannya: ”terban hujan, ungkai badai, terendam karam, runtuh ripuk tamanmu rampak.”
Dan nun di sana tampak
Manusia kecil lintang pukang
lari terbang jatuh duduk
air naik tetap terus
tumbang bungkar pokok purba
Teriak riuh redam terbelam
dalam gagap gempita guruh
kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi
Sajak itu sebenarnya bercerita tentang air bah yang didatangkan Tuhan untuk menenggelamkan dan menghabisi manusia yang tak hendak mengikuti jalan Nuh. Apabila yang dilukiskan Amir Hamzah terasa relevan se-karang, itu karena di sana juga tergambar bukan orang-orang yang berdosa, melainkan orang-orang yang tak berdaya—”manusia kecil” yang dilihat dari atas yang jauh.
Hanya Nuh yang disebut ”bebas lepas” dan ”lapang”. Hanya ia yang dikatakan duduk dalam kepastian, bisa bersuara ”sentosa” ketika manusia lain ”di tengah gelisah”.
Sang penyair sendiri tak seperti nabi itu.. Ia bimbang dan galau: kekuatan destruktif Tuhan bisa demikian menakutkan demi menegakkan kepastian, tapi tetap saja sang penyair tak dapat memutuskan mana yang harus dipilihnya di tengah sistem kepastian yang berbeda-beda. Akhirnya ia mengatakan, semua itu tak ada gunanya. Akhirnya ”hanya satu kutunggu hasrat”, katanya, yakni merasa ”dekat rapat” dengan Tuhan sendiri.
Bola api, suara gemuruh yang ganjil, lahar yang mengancam, kematian yang menyebar—alam dan ketakutan jemput-menjemput, bersama kemurungan. Para pakar g-eologi, klimatologi, dan psikologi dapat berbicara fasih men-jelaskan semua itu, tapi benarkah mereka bisa menjangkau alam itu sendiri? Bukankah ilmu-ilmu pengetahuan tak pernah menangkap alam itu an sich, melainkan hanya menangkapnya sesudah dijinakkan dalam kerangka sebuah wacana, dalam keadaan disetel (Gestell, kata Heidegger)? Dengan kata lain sebenarnya tak ada yang dapat ”de-kat rapat” dengan yang dirindukan untuk dijangkau itu—yakni yang benar, yang memukau, yang membuat gentar?
Bahkan saat Musa di pucuk Tursina (yang oleh Amir Hamzah dianggap sebagai momen yang dihasratkannya, momen ”dekat rapat” dengan Tuhan) manusia itu tetap mustahil menangkap ”Wajah” itu..
Mungkin ada yang dapat memberi kita kearifan dari tsunami di Aceh dan Pangandaran serta gempa dan ancaman magma di Yogyakarta: kita sadar akan kemustahilan seperti itu dan sebab itu kita berkabung, seperti saya katakan tadi. Kita berkabung karena kita merasa bersatu dengan yang ditinggal mati dan hilang. Kita juga berkabung karena kita tak bisa merasa ”bebas lepas”, ”lapang”, dan ”sentosa” di tengah sesama yang gelisah ketika bahkan ilmu tak dapat lagi bicara pasti.
Berkabung itu memberi kita kearifan, sebab dari sanalah kita sadar betapa mustahil kita untuk tak menjadi ”manusia kecil”. Kita akan senantiasa ”lintang pukang”. Tapi pada saat yang sama, justru karena itulah kita merindukan itu: bisa bersentuhan dengan yang abadi, biarpun sejenak. ”Aku berkabung untuk keabadian, aku berkabung untuk ia yang dalam dirinya kutanam dan kupupuk keabadian”, tulis Hèlène Cixous dalam Deluge.
Dikatakan secara lain, justru karena kita tak kunjung mendapatkan kepastian, justru karena kita terbatas, kita pun—seperti Amir Hamzah—menunggu hasrat untuk ”d-ekat rapat” dengan yang sama sekali lain: yang Maha Tak Terbatas, transcendens yang mutlak.
Kata ”maha” menegaskan betapa radikalnya sifat ”lain” di situ: sifat ”lain” yang tak dapat dirumuskan, tak dapat dibandingkan, yang hanya dapat disebut, meskipun de-ngan menyebutnya kita sadar kita hanya mencoba sejenak menafsirkannya. Sebab sifat ”lain” yang radikal itulah yang menyebabkan kita tak akan pernah rampung dan usai menerjemahkannya: kita tak akan mungkin membuatnya sedemikian rupa sehingga ”sama” dengan kita.
Agaknya itulah yang membentuk sikap ethis kita: berhadapan dengan yang berbeda, kita tergetar, tak akan jumawa, bahkan kita menatapnya dengan hormat yang berkabung.
Sebab kita tahu ada yang tetap tersembunyi. Ada misteri yang tak mungkin dianggap sekadar sebagai problem untuk kecerdasan kita. ”Dunia tak pernah merupakan sebuah obyek yang tegak di depan kita dan dapat disimak”, kata Heidegger. Dunia selalu tak berlaku jadi sasaran subyektif kita, selama ”jalan kelahiran dan kematian, rahmat dan kutuk, tetap membawa kita ke dalam ada”.
Maka bola api itu mungkin tampak mungkin tidak di langit Pangandaran, bunyi ”glung” itu mungkin terdengar mungkin tidak di bawah Yogya….
~Majalah Tempo Edisi 22, 24-30 Juli 2006~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar